عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ
اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ
يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ,
ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa
beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau
diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau
wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2026 dan
Muslim no. 1172).
Abu Sa’id Al Khudri berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنِّى اعْتَكَفْتُ
الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ
الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ
أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ». فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ
“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang
pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut.
Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang
mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa
saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.”
Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari
no. 2018 dan Muslim no. 1167).
0 Post a Comment:
Posting Komentar